Assalamu’alaykum.. Alhamdulillah hadir tulisan
cerpen saya yang kedua ini... Banyak orang mengatakan “tidak bisa hidup bila
tanpa cinta”. Tetapi bagaimana dengan hidup Zahra bila tanpa cinta. Berikut
adalah ceritanya....
Zahra adalah seorang gadis berusia 15
tahun. Usia ini merupakan rentang seseorang memasuki masa mencari jati diri. Termasuk
hal cinta. Ia mulai merasakan apa yang dinamakan cinta kepada lawan jenis. Ia menyukai
kakak kelasnya yang bernama Toni. Ia suka pada Toni karena Toni berperawakan
tinggi, tampan, dan pintar.
Semenjak Zahra mengenal cinta, ia
selalu gelisah. Wajah Toni selalu terbayang-bayang dibenaknya. Makan ingat
Toni, tidur ingat Toni, segala kegiatannya selalu teringat pada Toni. Terkadang
ia menunggu di depan pintu kelas untuk melihat Toni dulu sebelum kelas dimulai.
Karena cinta sudah merasuk ke dalam jiwanya, ia memberanikan diri untuk mencari
tahu sesosok Toni ini seperti apa. Setelah mendapat informasi, ia tahu bahwa
Toni memang baik dan pintar. Tetapi ternyata Toni sudah berpacaran dengan Putri,
teman sekelas Toni.
Hati Zahra hancur berkeping-keping. Makan
jadi tak enak, sekolah jadi tak semangat. Seakan-akan dunia Zahra sudah
berakhir. Hidup Zahra menjadi tak berarti. Terkadang ia menangis di masjid
sekolah (karena masjid sekolah tempat yang sepi).
Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan
sosok wanita bernama Aisyah. Aisyah merupakan kakak kelas Zahra yang juga teman
satu kelas Toni. Aisyah yang merasa iba melihat Zahra menangis di pojok masjid
sekolah, ia mendekati Zahra dan berusaha
untuk menghiburnya. “Adik knapa? Ada yang bisa mbak bantu?” tanya Aisyah. Zahra
diam dan hanya terisak. Kemudian karna Zahra tidak menjawab
pertanyaan-pertanyaan Aisyah, ia menyuruh Zahra untuk mengambil air wudhu dan
segera sholat sunnah (waktu dhuha).
Zahra pun beranjak segera berwudhu dan
sholat. Selesai sholat, Zahra merasakan bahwa ia jauh lebih tenang dari
sebelumnya. Air mata sudah bisa terbendung di matanya. Kemudian Zahra mendekati
Aisyah untuk mengucapkan terimakasih karna sudah mengingatkannya. Secara tak
sadar, Zahra menceritakan perasaan cintanya tersebut kepada Aisyah.
Aisyah pun menanggapi cerita Zahra: ”Adikku
Zahra, perasaan cinta yang kau rasakan saat ini bukan merupakan cinta yang
haqiqi. Memang benar setiap manusia fitrahnya memiliki rasa cinta. Semua berhak
untuk merasakan dicintai dan mencintai lawan jenis. Tapi ingat, seseorang yang
kau cintai saat ini belum tentu jodoh di masa depanmu. Jangan kau sia-siakan
masa mudamu hanya terpaku pada masalah cinta. Cinta yang haqiqi akan tiba pada
waktunya, semua sudah ditentukan oleh Allah. Cintailah seseorang karena
agamanya, bukan hanya karena fisik, harta, tahta, dan keturunannya. Coba
perhatikan, orang yang berpacaran, ia menyia-nyiakan waktunya untuk
bermanis-manis ria dengan pasangannya. Ia di gerayangi seenaknya, padahal belum tentu ia jodohnya. Kamu mau punya
laki-laki bekas grayangan
orang-orang? kalau mbak sih gak mau.hhhehehehe”
Semenjak saat itu, Zahra sering
berkonsultasi dengan mbak Aisyah tentang cinta. Ia juga memutuskan untuk hidup
tanpa cinta dahulu sampai pada waktunya Allah menentukan kapan jodohnya
mendekat. Walaupun hidupnya saat ini tanpa cinta pada lawan jenis, tetapi ia
tetap bisa hidup dengan tenang, senang, dan damai.
Sekian dulu cerita pendek ini.. Hidup
bisa terus berlangsung bila tanpa cinta dari lawan jenis sekalipun. Karena yang
terpenting ialah kita mendapatkan cinta dari Allah dan cinta dari keluarga.
Betul????
Curs
Saya stuju dengan pendapat di atas, tetapi cinta pada lawan jenis juga pnting,, karna generasi kita ada karna cinta tersebut...hheheheh
BalasHapuskeren :D
BalasHapuskalok ngomongin cinta itu rumit. yang penting cinta pada Allah nggak akan pernah pudar. :)
BalasHapusCinta itu luar biasa
BalasHapus