Blogger Widgets Curs

Sabtu, 27 Desember 2014

CERPEN #2 (HIDUP TANPA CINTA)

Assalamu’alaykum.. Alhamdulillah hadir tulisan cerpen saya yang kedua ini... Banyak orang mengatakan “tidak bisa hidup bila tanpa cinta”. Tetapi bagaimana dengan hidup Zahra bila tanpa cinta. Berikut adalah ceritanya....

Zahra adalah seorang gadis berusia 15 tahun. Usia ini merupakan rentang seseorang memasuki masa mencari jati diri. Termasuk hal cinta. Ia mulai merasakan apa yang dinamakan cinta kepada lawan jenis. Ia menyukai kakak kelasnya yang bernama Toni. Ia suka pada Toni karena Toni berperawakan tinggi, tampan, dan pintar.

Semenjak Zahra mengenal cinta, ia selalu gelisah. Wajah Toni selalu terbayang-bayang dibenaknya. Makan ingat Toni, tidur ingat Toni, segala kegiatannya selalu teringat pada Toni. Terkadang ia menunggu di depan pintu kelas untuk melihat Toni dulu sebelum kelas dimulai. Karena cinta sudah merasuk ke dalam jiwanya, ia memberanikan diri untuk mencari tahu sesosok Toni ini seperti apa. Setelah mendapat informasi, ia tahu bahwa Toni memang baik dan pintar. Tetapi ternyata Toni sudah berpacaran dengan Putri, teman sekelas Toni.

Hati Zahra hancur berkeping-keping. Makan jadi tak enak, sekolah jadi tak semangat. Seakan-akan dunia Zahra sudah berakhir. Hidup Zahra menjadi tak berarti. Terkadang ia menangis di masjid sekolah (karena masjid sekolah tempat yang sepi).

Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan sosok wanita bernama Aisyah. Aisyah merupakan kakak kelas Zahra yang juga teman satu kelas Toni. Aisyah yang merasa iba melihat Zahra menangis di pojok masjid sekolah, ia mendekati Zahra  dan berusaha untuk menghiburnya. “Adik knapa? Ada yang bisa mbak bantu?” tanya Aisyah. Zahra diam dan hanya terisak. Kemudian karna Zahra tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Aisyah, ia menyuruh Zahra untuk mengambil air wudhu dan segera sholat sunnah (waktu dhuha).

Zahra pun beranjak segera berwudhu dan sholat. Selesai sholat, Zahra merasakan bahwa ia jauh lebih tenang dari sebelumnya. Air mata sudah bisa terbendung di matanya. Kemudian Zahra mendekati Aisyah untuk mengucapkan terimakasih karna sudah mengingatkannya. Secara tak sadar, Zahra menceritakan perasaan cintanya tersebut kepada Aisyah.

Aisyah pun menanggapi cerita Zahra: ”Adikku Zahra, perasaan cinta yang kau rasakan saat ini bukan merupakan cinta yang haqiqi. Memang benar setiap manusia fitrahnya memiliki rasa cinta. Semua berhak untuk merasakan dicintai dan mencintai lawan jenis. Tapi ingat, seseorang yang kau cintai saat ini belum tentu jodoh di masa depanmu. Jangan kau sia-siakan masa mudamu hanya terpaku pada masalah cinta. Cinta yang haqiqi akan tiba pada waktunya, semua sudah ditentukan oleh Allah. Cintailah seseorang karena agamanya, bukan hanya karena fisik, harta, tahta, dan keturunannya. Coba perhatikan, orang yang berpacaran, ia menyia-nyiakan waktunya untuk bermanis-manis ria dengan pasangannya. Ia di gerayangi seenaknya, padahal belum tentu ia jodohnya. Kamu mau punya laki-laki bekas grayangan orang-orang? kalau mbak sih gak mau.hhhehehehe”

Semenjak saat itu, Zahra sering berkonsultasi dengan mbak Aisyah tentang cinta. Ia juga memutuskan untuk hidup tanpa cinta dahulu sampai pada waktunya Allah menentukan kapan jodohnya mendekat. Walaupun hidupnya saat ini tanpa cinta pada lawan jenis, tetapi ia tetap bisa hidup dengan tenang, senang, dan damai.

Sekian dulu cerita pendek ini.. Hidup bisa terus berlangsung bila tanpa cinta dari lawan jenis sekalipun. Karena yang terpenting ialah kita mendapatkan cinta dari Allah dan cinta dari keluarga.

Betul????

4 komentar:

  1. Saya stuju dengan pendapat di atas, tetapi cinta pada lawan jenis juga pnting,, karna generasi kita ada karna cinta tersebut...hheheheh

    BalasHapus
  2. kalok ngomongin cinta itu rumit. yang penting cinta pada Allah nggak akan pernah pudar. :)

    BalasHapus