Blogger Widgets Curs

Rabu, 24 Desember 2014

CERPEN#1 (TERPAKSA, AKU LAKUKAN ITU...)

Halooooooo.. Pada kesempatan pertama saya menulis di blog ini, saya akan menceritakan sebuah cerpen berdasarkan kisah nyata. Berikut adalah kisahnya.....
Ami adalah seorang perempuan yang kini berusia 19 tahun.
Dalam hidup Ami, kepercayaan bahwa Allah itu ada sudah ia yakini sejak kecil, namun kepercayaan bila Allah itu ada, dekat, melindungi, bahkan menyayanginya adalah sejak 4 tahun yang lalu.
Ami dilahirkan di keluarga yang beragama cukup, tidak terlalu ‘alim dan sebagainya. Krudung, ia pakai hanya ketika sekolah saja, ketika bermain dan jalan-jalan dengan temannya, ia menanggalkannya. Saat usia 12 tahun, tiba masa baligh Ami. Mulailah diberlakukan peraturan orangtuanya, bahwa Ami wajib menutup aurat. Tetapi Ami masih saja ngeyel, tidak patuh, terkadang mencuri-curi kesempatan untuk pergi tanpa kerudung, bahkan berpakaian minimum. Astaghfirullah... L.
Salah satu penyebabnya, karena teman-temannya juga tidak menutup aurat. Bahkan karena ia sering dipuji cantik ketika menggerai rambutnya yang hitam panjang dari pada menjulurkan krudungnya, ia semakin jauh dari agama. Kaos lengan pendek ketat, celana jins jenis pensil, dan pita menghiasi rambut yang tergurai itu adalah gaya berpakaian sehari-harinya.
Tapi........ tidak ketika masuk jenjang SMA, Ami diterima disalah satu SMA Negeri di Yogyakarta. Sebenarnya, SMA tersebut bukan merupakan sekolah impiannya. Namun karena faktor nilai, ia harus bersekolah disana. SMA ini memang bukan yang terbaik, namun SMA ini adalah salah satu SMA favorit. Disana ia diperkenalkan dengan sebuah organisasi. Bukan OSIS, Pramuka, dan sebagainya, tetapi organisasi rohani Islam.
Ya, Ami diterima menjadi anggota di Rohis. Itu bukan fashionnya bangeeeett, tetapi karena ada angket yang ditunjukkan pada orangtuanya, ia terpaksa ikut.
Rohis SMA ini memang beda dengan rohis sekolah pada umumnya. Disini peraturannya banyak dan sangat ketat, yang sangat dijaga oleh pembina rohisnya. Diantara peraturannya ialah Tidak Boleh Mencontek, Tidak Boleh Pacaran, dan Wajib Menutup Aurat. Susah banget untuk menjalankan peraturan-peraturan ini.
OMG,,, ia yang selama ini pergaulannya dengan teman-temannya tidak terlalu dibatasi, sekarang ia wajib melakukan peraturan-peraturan itu.
Selama berhari-hari, berminggu-minggu ia berusaha untuk memenuhinya, namun ujian bertubi-tubi datang, kegalauan selalu melanda.
Ketika ulangan/ujian sekolah, Ami merasa iri dengan teman-teman kelasnya. Mereka seenaknya mencontek, membawa catatan dibawah meja, catatan-catatan kecil di kartu ujian, di meja, dinding kelas, bahkan menyalin jawaban teman lainnya. Walaupun jika ketahuan akan mendapat sanksi, tetapi mereka mempunyai seribu cara supaya tidak ketahuan. Sedangkan nanti hasilnya, mereka mendapat nilai bagus. Ami yang ketika SMP hobi menyontek, tetapi karena peraturan rohis ia berusaha tidak menyontek
Ketika teman-temannya PDKT sana sini, ia pun hanya nglangut. Bagaimana PDKT dan berpacaran, pendekatan dengan embel-embel “Pacaran Sehat dan Islami” saja tidak boleh. Tapi ia tetap menjalankan peraturan itu.
Lagi, teman-temannya bisa bergaya, berganti-ganti model rambut serta pakaian, istilahnya mereka “Gaul”. Sedangkan Ami, karena peraturan rohis memaksa ia berpakaian rok, baju panjang, krudung, kesannya “Kamseupay” bingitzz di jaman itu. Tapi ia tetap melaksanakan peraturan itu. ...
Sebabnya banyak kakak kelas rohis yang mengawasinya. Jika ia ketahuan mencontek, pacaran, dan tidak menutup aurat, ia akan dijatuhi sanksi berupa hukuman, disidang para pengurus rohis, bahkan dikeluarkan secara tidak hormat. Di sisi lain ia mendapat sanksi psikologis yaitu dikucilkan serta menjadi bahan omongan satu sekolah.
Suatu saat, perasaan tidak nyaman dan terpaksa menjadi anak rohis bisa terkalahkan. Ketika ia diajak seorang teman rohisnya mengikuti sebuah training. Ada sebuah kalimat yang membuat Ami terenyuh: “Anda diciptakan bukan untuk menjadi seorang dokter, ilmuwan, teknisi, guru, dan lain sebagainya, tetapi Anda diciptakan untuk menjadi Hamba Allah”.
Ami selalu terniang-niang kalimat tersebut. Oh iya ya, selama 15 tahun ia hidup, apakah ia sudah menjadi Hamba Allah????? Untuk menjadi Hamba Allah kan harus menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itu tok. Apa sih yang sulit?
Sejak itu Ami mulai berpikir positif tentang peraturan-peraturan rohis tersebut. Ami dan temannya pun bertanya kepada pembina rohis, apa arti semua peraturan ini, kenapa ia harus mematuhinya. Katanya: “Ketika kita tidak mencontek, kita berlatih untuk berlaku jujur. Ketika kita tidak mencontek, kita akan berbuat adil. Nilai kita adalah hasil dari kemampuan berfikir kita. Ketika kita tidak mencontek, rezeki yang kita peroleh adalah halal, karena rezeki yang kita peroleh dari pekerjaan kita, dimulai dari ijazah kita, sedangkan ijazah diperoleh dari proses belajar dan nilai ujian kita selama sekolah serta dijenjang berikutnya, tidak dengan kecurangan. Apakah kamu nanti akan menafkahi anakmu dengan rezeki yang haram?” Ami hanya bisa terdiam membisu.
“Bagaimana dengan kita tidak boleh pacaran? Kan kenalan aja boleh ust, gak sampai pegang-pegangan atau pun lebih, namanya pacaran sehat dan Islami” Tanyanya semakin penasaran. “Apa yang dilakukan orang ketika pacaran, walau namanya pacaran sehat dan islami, walaupun gak pegang-pegangan dan lebih, tapi ia saling memandang, saling memberikan pujian dan rayuan, sering bermanja-manja, saling memberi perhatian, seakan hidupnya bergantung pada pasangannya. Yang seperti itu bisa menjadi celah Syetan mengajak kita dalam bermaksiat. Berpandang-pandangan merupakan zina mata, berucap pujian dan rayuan adalah zina mulut, mendengarkan dan terbuai dengan pujian dan rayuan itu zina telinga, semua itu merujuk pada zina hati. Zina termasuk berdosa.”
“Lalu kenapa kita wajib menutup aurat? Nanti saja ust kalau sudah siap, kalau sudah tua, nanti susah mendapatkan pekerjaan. Bahkan ketika foto ijazah, yang foto memakai krudung diwajibkan mengisi surat pernyataan, bila sekolah dan pemerintah tidak bertanggungjawab bila terjadi sesuatu pada jenjang berikutnya.” Tanya teman Ami.
“Siapmu kapan??? Siap ketika Allah memanggilmu??? Bahkan kematian datang kapan, dimana, kenapa, dengan cara apa, semua tidak ada yang tahu, serta terjadi secara tiba-tiba. Dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31: ‘.....dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan(auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka....’ kenapa??? Karena wanita sangat mulia dan dihormati, itu juga karena membantu laki-laki untuk bisa mengendalikan dirinya dari syahwat.”
Percakapan ini mengerucut pada sebuah analogi, ketika kita akan piknik/study tour/mudik ke tempat yang agak jauh yang hanya 3-4 hari, kita mempersiapkan baju, bekal, barang pribadi, biaya, dan lain sebagainya dengan heboh, antusias dan dengan cermat, dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Apalagi perjalanan menuju Kampung Akhirat yaitu Surga Allah yang perjalanannya lebih dari pada study tour/mudik, untuk kita menetap disana selamanya. Apa yang sudah kita persiapkan???
Semenjak saat itu, Ami bangga menjadi anak rohis dengan segala peraturan yang mengikatnya. Ami bangga dilahirkan sebagai orang Islam dan tumbuh sebagai seorang muslimah. Ami tau bahwa Allah memberikan perintah dan larangan-Nya karna Dia sangat menyayangi hamba-Nya, Dia melindungi hamba-Nya, Dia selalu ada dan dekat dengan hamba-Nya.

Sekian kisah ini, itulah titik balik Ami sebagai seorang Muslimah. Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata dalam kehidupan saya dan dapat diambil hikmah yang baik untuk  menjadi sebuah motivasi dan inspirasi untuk hidup yang lebih baik dengan predikat Muslimah. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca.

12 komentar:

  1. Suggoi MIMA ^_^b
    jadi teringat sesuatu pas SMA, hhe terimakasih mima :)

    BalasHapus
  2. iya,,, walaupun awalnya terpaksa,,, tetapi keterpaksaan lama-lama berubah menjadi keihklasan.. so, apa salahnya terpaksa dalam melakukan sebuah kebaikan.. :)
    iya sama2 Syalfani Putri

    BalasHapus
  3. kui pengalamanmu tenan to mah?? hehee
    gumun lho aq..

    BalasHapus
  4. subhanallaaaaaah ukhti mimaah . anti jayyid jiddan :)

    BalasHapus
  5. Wow keren it's verry good wah trnyata segala sesuatu yg disyari'atkan itu ada alsn duniawinya ya... masyaAllah kerenn

    BalasHapus
  6. subhanallah. ini cerita SI2 mu kemarin mim???

    BalasHapus
  7. aaaamiiii,,,ini to ceritamu,,ceritaku udah dibaca??haha
    saran ukh,,setauku kalau ada "di....(kata tempat atau tunjuk)" itu dipisah,,contoh "di sana",,gitu si....
    sippo deh ceritanya,,,tulis tentang aku donk =p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ami= Amimah..hhehehe
      oke, terimakasih mbak gusti atas sarannya.. InsyaAllah,, ditunggu ya,,,hhe

      Hapus
  8. mhahaha beautifuf.. jadi inget masa kita dulu mim pas alay".y jaman SMP.. sampai SMA tetep alay sii tapii beda.. wkwk alay syar'i ..
    wahaha bakalan jadi penulis kii temen SMP, SMA, sampai kuliah ku inii .. semangaat

    BalasHapus
  9. insaallah tetap istiqomah mbak mima

    BalasHapus