Halooooooo.. Pada kesempatan pertama
saya menulis di blog ini, saya akan menceritakan sebuah cerpen berdasarkan
kisah nyata. Berikut adalah kisahnya.....
Ami
adalah seorang perempuan yang kini berusia 19 tahun.
Dalam
hidup Ami, kepercayaan bahwa Allah itu ada sudah ia yakini sejak kecil, namun
kepercayaan bila Allah itu ada, dekat, melindungi, bahkan menyayanginya adalah
sejak 4 tahun yang lalu.
Ami dilahirkan
di keluarga yang beragama cukup, tidak terlalu ‘alim dan sebagainya. Krudung, ia
pakai hanya ketika sekolah saja, ketika bermain dan jalan-jalan dengan temannya,
ia menanggalkannya. Saat usia 12 tahun, tiba masa baligh Ami. Mulailah
diberlakukan peraturan orangtuanya, bahwa Ami wajib menutup aurat. Tetapi Ami masih saja ngeyel, tidak patuh,
terkadang mencuri-curi kesempatan untuk pergi tanpa kerudung, bahkan berpakaian
minimum. Astaghfirullah... L.
Salah
satu penyebabnya, karena teman-temannya juga tidak menutup aurat. Bahkan karena
ia sering dipuji cantik ketika menggerai rambutnya yang hitam panjang dari pada
menjulurkan krudungnya, ia semakin jauh dari agama. Kaos lengan pendek ketat,
celana jins jenis pensil, dan pita menghiasi rambut yang tergurai itu adalah
gaya berpakaian sehari-harinya.
Tapi........
tidak ketika masuk jenjang SMA, Ami diterima disalah satu SMA Negeri di
Yogyakarta. Sebenarnya, SMA tersebut bukan merupakan sekolah impiannya. Namun karena
faktor nilai, ia harus bersekolah disana. SMA ini memang bukan yang terbaik,
namun SMA ini adalah salah satu SMA favorit. Disana ia diperkenalkan dengan
sebuah organisasi. Bukan OSIS, Pramuka, dan sebagainya, tetapi organisasi
rohani Islam.
Ya, Ami
diterima menjadi anggota di Rohis. Itu bukan fashionnya bangeeeett, tetapi
karena ada angket yang ditunjukkan pada orangtuanya, ia terpaksa ikut.
Rohis SMA
ini memang beda dengan rohis sekolah pada umumnya. Disini peraturannya banyak
dan sangat ketat, yang sangat dijaga oleh pembina rohisnya. Diantara
peraturannya ialah Tidak Boleh Mencontek, Tidak Boleh Pacaran, dan Wajib
Menutup Aurat. Susah banget untuk menjalankan peraturan-peraturan ini.
OMG,,,
ia yang selama ini pergaulannya dengan teman-temannya tidak terlalu dibatasi,
sekarang ia wajib melakukan peraturan-peraturan itu.
Selama
berhari-hari, berminggu-minggu ia berusaha untuk memenuhinya, namun ujian
bertubi-tubi datang, kegalauan selalu melanda.
Ketika
ulangan/ujian sekolah, Ami merasa iri dengan teman-teman kelasnya. Mereka
seenaknya mencontek, membawa catatan dibawah meja, catatan-catatan kecil di
kartu ujian, di meja, dinding kelas, bahkan menyalin jawaban teman lainnya. Walaupun
jika ketahuan akan mendapat sanksi, tetapi mereka mempunyai seribu cara supaya
tidak ketahuan. Sedangkan nanti hasilnya, mereka mendapat nilai bagus. Ami yang
ketika SMP hobi menyontek, tetapi karena peraturan rohis ia berusaha tidak
menyontek
Ketika
teman-temannya PDKT sana sini, ia pun hanya nglangut. Bagaimana PDKT dan berpacaran,
pendekatan dengan embel-embel “Pacaran Sehat dan Islami” saja tidak boleh. Tapi
ia tetap menjalankan peraturan itu.
Lagi,
teman-temannya bisa bergaya, berganti-ganti model rambut serta pakaian,
istilahnya mereka “Gaul”. Sedangkan Ami, karena peraturan rohis memaksa ia
berpakaian rok, baju panjang, krudung, kesannya “Kamseupay” bingitzz di jaman
itu. Tapi ia tetap melaksanakan peraturan itu. ...
Sebabnya
banyak kakak kelas rohis yang mengawasinya. Jika ia ketahuan mencontek,
pacaran, dan tidak menutup aurat, ia akan dijatuhi sanksi berupa hukuman, disidang
para pengurus rohis, bahkan dikeluarkan secara tidak hormat. Di sisi lain ia
mendapat sanksi psikologis yaitu dikucilkan serta menjadi bahan omongan satu
sekolah.
Suatu
saat, perasaan tidak nyaman dan terpaksa menjadi anak rohis bisa terkalahkan.
Ketika ia diajak seorang teman rohisnya mengikuti sebuah training. Ada sebuah
kalimat yang membuat Ami terenyuh: “Anda
diciptakan bukan untuk menjadi seorang dokter, ilmuwan, teknisi, guru, dan lain
sebagainya, tetapi Anda diciptakan untuk menjadi Hamba Allah”.
Ami
selalu terniang-niang kalimat tersebut. Oh iya ya, selama 15 tahun ia hidup,
apakah ia sudah menjadi Hamba Allah????? Untuk menjadi Hamba Allah kan harus
menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itu tok. Apa sih yang sulit?
Sejak
itu Ami mulai berpikir positif tentang peraturan-peraturan rohis tersebut. Ami dan
temannya pun bertanya kepada pembina rohis, apa arti semua peraturan ini,
kenapa ia harus mematuhinya. Katanya: “Ketika kita tidak mencontek, kita
berlatih untuk berlaku jujur. Ketika kita tidak mencontek, kita akan berbuat
adil. Nilai kita adalah hasil dari kemampuan berfikir kita. Ketika kita tidak
mencontek, rezeki yang kita peroleh adalah halal, karena rezeki yang kita
peroleh dari pekerjaan kita, dimulai dari ijazah kita, sedangkan ijazah
diperoleh dari proses belajar dan nilai ujian kita selama sekolah serta
dijenjang berikutnya, tidak dengan kecurangan. Apakah kamu nanti akan menafkahi
anakmu dengan rezeki yang haram?” Ami hanya bisa terdiam membisu.
“Bagaimana
dengan kita tidak boleh pacaran? Kan kenalan aja boleh ust, gak sampai
pegang-pegangan atau pun lebih, namanya pacaran sehat dan Islami” Tanyanya
semakin penasaran. “Apa yang dilakukan orang ketika pacaran, walau namanya
pacaran sehat dan islami, walaupun gak pegang-pegangan dan lebih, tapi ia saling
memandang, saling memberikan pujian dan rayuan, sering bermanja-manja, saling
memberi perhatian, seakan hidupnya bergantung pada pasangannya. Yang seperti
itu bisa menjadi celah Syetan mengajak kita dalam bermaksiat. Berpandang-pandangan
merupakan zina mata, berucap pujian dan rayuan adalah zina mulut, mendengarkan
dan terbuai dengan pujian dan rayuan itu zina telinga, semua itu merujuk pada
zina hati. Zina termasuk berdosa.”
“Lalu
kenapa kita wajib menutup aurat? Nanti saja ust kalau sudah siap, kalau sudah
tua, nanti susah mendapatkan pekerjaan. Bahkan ketika foto ijazah, yang foto
memakai krudung diwajibkan mengisi surat pernyataan, bila sekolah dan
pemerintah tidak bertanggungjawab bila terjadi sesuatu pada jenjang
berikutnya.” Tanya teman Ami.
“Siapmu
kapan??? Siap ketika Allah memanggilmu??? Bahkan kematian datang kapan, dimana,
kenapa, dengan cara apa, semua tidak ada yang tahu, serta terjadi secara tiba-tiba.
Dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31: ‘.....dan hendaklah mereka menutup kain
kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan(auratnya), kecuali
kepada suami mereka, atau ayah mereka....’ kenapa??? Karena wanita sangat mulia
dan dihormati, itu juga karena membantu laki-laki untuk bisa mengendalikan
dirinya dari syahwat.”
Percakapan
ini mengerucut pada sebuah analogi, ketika kita akan piknik/study tour/mudik ke
tempat yang agak jauh yang hanya 3-4 hari, kita mempersiapkan baju, bekal,
barang pribadi, biaya, dan lain sebagainya dengan heboh, antusias dan dengan
cermat, dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Apalagi perjalanan menuju Kampung
Akhirat yaitu Surga Allah yang perjalanannya lebih dari pada study tour/mudik,
untuk kita menetap disana selamanya. Apa yang sudah kita persiapkan???
Semenjak
saat itu, Ami bangga menjadi anak rohis dengan segala peraturan yang mengikatnya.
Ami bangga dilahirkan sebagai orang Islam dan tumbuh sebagai seorang muslimah. Ami
tau bahwa Allah memberikan perintah dan larangan-Nya karna Dia sangat
menyayangi hamba-Nya, Dia melindungi hamba-Nya, Dia selalu ada dan dekat dengan
hamba-Nya.
Sekian kisah
ini, itulah titik balik Ami sebagai seorang Muslimah. Cerita ini ditulis berdasarkan
kisah nyata dalam kehidupan saya dan dapat diambil hikmah yang baik untuk menjadi sebuah motivasi dan inspirasi untuk
hidup yang lebih baik dengan predikat Muslimah. Mohon maaf bila ada kata-kata
yang kurang berkenan di hati pembaca.